Serius tapi Santai aja bro

Saat menulis tulisan ini, saya duduk di kelas 9. Dan hari ini dilaksanakan Ujian Nasional.

Sejujurnya saya tidak peduli sama Ujian Nasional kali ini, kenapa? Karena saya trauma sama kejadian UN waktu SD. Waktu SD, Disekolah saya bisa dibilang anak yang pinter, menjadi harapan sekolah. Yang namanya anak anak dibilang kayak gitu ya termotivasi. Beda sama umur segini, udah mau SMA, Dibilangin begitu ya... sabodo teuing.

Karena termotivasi jadi semangat belajar. Tiap hari belajar, gak pernah main, sekalinya main itu cuman sebentar banget gak lebih dari 2 jam dalam seminggu. Itupun main di depan komputer bukan di luar sama temen temen. Sampai akhirnya hari itu pun tiba.

Menurut saya ujian ini serius, jadi waktu saya ujian itu benar benar fokus. Yang biasanya waktu try out saya orangnya nyantai, terkadang jawaban yang gak tau asal cap cip cup, ya pokoknya gak diseriusin. Waktu UN saya bener bener serius, jawaban yang tidak tau saya benar benar dianalisis. Saat itu saya sangat bertekad menjadi orang yang nomor 1 dan mendapat nilai yang sempurna.

Ketika hasil diumumkan, saya tenang tenang saja. Toh, biasanya try out saya mendapat nilai yang memuaskan, bahkan bisa dibilang HAMPIR sempurna. Saat mengetahui nilainya jauh dari ekspetasi saya dan sekolah. Saya mendapat nilai yang lumayan rendah. Beda jauh sama hasil try out saya. karena NEM saya kecil, saya susah untuk diterima di SMP negeri. Saat ini saya sekolah di Mts Negeri.

Sejak saat itu, saya gak pernah lagi terlalu menyeriuskan sesuatu. Lalu harus bagaimana? Masa kita harus tidak bersungguh sungguh sama sesuatu yang ingin  kita capai?

BUKAN GITU!

Waktu SD saya juga pernah mengikuti Tes Akhir Santri, yang isinya tes membaca qur'an, praktek ibadah, dan lainnya yang berkaitan dengan praktek agama, se-Indonesia. Di sekolah saya hanya beberapa orang terpilih yang bisa mengikuti tes ini, salah satunya saya. Menurut saya, ada 2 mata uji yang susah, yaitu mata uji Tajwid dan Ghorib. mata uji lainnya tidak terlalu saya seriuskan, karena menurut saya, mata uji yang lainnya sudah saya praktekan sehari-hari. Seperti Do'a dan Fashoha (Fasih membaca Al-Quran).

Saat ujian berlangsung saya sempat gugup  saat tes Doa sehari hari. Bahkan sempat gak hapal doa makan. dan saat selesai ujian, gak sengaja saya lihat nilai tes doa saya dapat 6. Saat tau itu saya langsung ngedown, pesimis gak lulus ujian. ujian yang lainnya, Alhamdulillah Lancar.

Saat hasilnya sudah keluar, diumumkan disekolah tentang hasil Tes akhir santri (TAS) itu, ternyata sari beberapa orang yang dikirim untuk ikut TAS, cuman 1 orang yang lulus dari sekolah saya. Bukan, bukan saya. Saya tidak lulus bukan karena nilai tes doa, tetapi tes fashoha, yang dari dulu selalu saya sepelekan, bahkan sampai saat itu tidak saya khawatirkan kelulusannya. Dibalik itu, nilai Tajwid saya hampir sempurna, saya mendapat nilai 9 untuk tajwid dan 8.5 untuk ghorib.

Artinya apa? Menurut saya, jangan menyepelekan suatu hal walaupun itu hal yang kecil bahkan bisa dianggap tidak berpengaruh. Kita juga harus tekun, menyeriuskan hal tapi dibawa santai, jangan memaksakan kehendak.


Karena Allah swt. berfirman pada surah Ar-Ra'du ayat 11

إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ....
Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka

Udah segitu aja. Tadinya mau pakai gambar, cuman gak sempet foto

Komentar