Pada tahun 2016, jagat media sosial dikejutkan dengan beredarnya
foto-foto pernikahan Aming Supriatnah dan Evelyn Nada Anjani. Sembilan bulan
kemudian, tepatnya pada Jumat (3/3/2017) ini, Aming mengajukan permohonan cerai
kepada Evelyn. (Sumber: entertainment.kompas.com dengan perubahan)
Siapa yang tidak kenal dengan Aming. Komedian senior dengan ciri
khasnya seorang pria berdandan menyerupai wanita. Di usianya yang ke 35 tahun
lalu, ia memutuskan untuk menikah dengan seorang wanita yang menyerupai pria.
Wah... malah kebalikannya. Hal ini membuat heboh masyarakat.
Menyerupai lawan jenis. Dalam sudut pandang agama islam sendiri,
Islam melarang kaumnya untuk menyerupai lawan jenis. Baik perilaku maupun
pakaiannya. Dalam suatu hadis sahih sudah jelas disebutkan
لَعَنَ رَسُولُ اللهِ الرَّجُلَ يَلْبَسُ لِبْسَةَ الْمَرْأَةِ وَالْمَرْأَةَ تَلْبَسُ لِبْسَةَ الرَّجُلِ
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat lelaki yang berpakaian seperti model pakaian wanita dan (melaknat) wanita yang berpakaian seperti lelaki.” (HR. Abu Dawud no. 4098, Ahmad 2/325).
Menyerupai lawan jenis seperti sudah menjadi hal yang lumrah di
zaman ini. Kenapa? Seperti pada judul, banyak yang menyinggung hal ini dengan
kesetaraan gender. Kesetaraan gender dianggapnya sebagai suatu kebebasan,
kemerdekaan kaum wanita, kesamaan hak antar gender, dan lainnya. Ada yang
salah?? Sebenarnya tidak. Namun, anggapan-anggapan umum dapat diartikan banyak
oleh masyarakat awam.
Coba kita cari dahulu apa makna ‘kesetaraan gender’.
Kesetaraan gender terdiri dari 2 kata, kesetaraan dan gender. Kesetaraan
memiliki kata dasar tara. Tara dalam KBBI berarti yang sama (tingkatnya,
kedudukannya, dan sebagainya. Kesetaraan berarti kesamaan. Kata kedua gender
yang berarti konsep yang mengacu pada peran-peran dan tanggungjawab laki-laki
dan perempuan yang terjadi akibat dari dan dapat berubah oleh keadaan sosial
dan budaya manusia. (Sumber: Glosarium dephut.go.id)
Intinya adalah kesetaraan gender memang mendukung kebebasan
berekspresi. Tidak adanya batasan dalam berkarir atau memperoleh pendidikan khususnya
pada wanita. Namun, semua ada batasannya. Tetap pada kodratnya masing-masing.
Wanita boleh berpendidikan tinggi, berkarir sesukses-suksesnya. Namun tetap,
seorang wanita memiliki busana yang pantas untuk dikenakan.
Tuhan sudah menganugerahkan kita dengan hidup dan jenis kelamin
yang diberi. Sudah sepatutnya kita bersyukur kepada-Nya dengan tidak merubah
takdirnya. Toh, masing-masing gender memiliki hak dan kewajibannya
masing-masing. Keduanya sama-sama istimewa. Itulah yang menjadi dasar kesetaraan
gender.
Terima kasih yang sudah baca. Mohon maaf apabila ada atau banyak
kata yang salah tertulis disini. Karena sesungguhnya yang buruk-buruk datangnya
dari saya sebagai manusia yang penuh kekhilafan dan yang baik-baik datangnya
dari Tuhan Yang Maha Esa.

Komentar
Posting Komentar