Percayalah... Aku ini Guru Bangsa Tjokroaminoto

Aku adalah H.O.S. Tjokroaminoto yang terlahir kembali. Dizaman yang sama saat aku sebelum dibangkitkan kembali. Ya... istilahnya aku mecoba memutar dan mengulang waktuku.
Masa kecil adalah masa terindah di hidup ‘hampir semua’ setiap insan. Begitu juga aku. Tapi, Alhamdulillah aku memang beruntung karena ayahku pejabat. Aku mendapatkan pendidikan yang layak, dan aku memanfaatkannya dengan baik. Menjadi murid berprestasi? Pastilah.... guru-guru pun memperhatikanku lebih dibanding yang lain. Tatapan mereka seolah berkata....

“Anak itu akan menjadi orang besar di bangsanya. Kita harus membimbingnya atau membiarkannya?”

Aku bisa jadi tak peduli dengan hal itu, toh aku adalah seorang murid yang memiliki kewajiban tersendiri.
Aku pun lulus dengan prestasi terbaikku. Sebagai orang yang berpendidikan tak mungkinlah aku hanya berdiam diri di kampung menikmati pemandangan alam. Aku pun mencari dimana kelebihanku yang bisa aku salurkan. Saat itu aku belum terpikir banyak tentang bangsa. Tapi kalau terpikir sih pasti. Semoga kalian mengerti maksudku.

Aku pun terjun ke dunia kepenulisan. Seorang jurnalis, eh.... calon jurnalis yang hebat, handal, dan kontroversional. Untuk mencari cita-cita besar itu aku pun pamit kepada keluarga di Magelang untuk mencari ilmu ke Surabaya, saat itu menjadi pusat perdagangan.

Aku sadar aku tak bisa berkembang pesat dalam dunia jurnalis. Aku yakin aku bisa, namun memang lambat. Tekanan pasti ada, aku tidak bisa instan mendapatkan kehebatan itu. Di tengah tekanan dan kejenuhan di Surabaya aku pun menemukan Sarekat Dagang Islam. Partai politik. Ya, aku mau mencobanya.
SDI. Awalnya adalah perkumpulan para pedagang. Seakan menjadi partai politik. Daripada bingung ini adalah kumpulan pedagang atau parpol, Jadi kami sepakati untuk menjadi partai politik dan berubah namanya menjadi Sarekat Islam atau SI.
SI yang aku mau adalah SI yang adil, sejahtera, islami, dan aktif. SI adalah cikal bakal bangsa. SI yang ku mau bukan SI yang radikal tapi SI yang damai. Membawa bendera Islam, yang berarti mengajak perdamaian bukan peperangan dan perpecahan.

Saat itu, aku adalah Tjokroaminoto yang baru. Harapan bangsa. Jangan anggap remeh aku jangan rendahkan aku. Ini bangsaku, dan aku tidak takut. Sebentar sepertinya harus ada yang direvisi. Jangan anggap remeh kami jangan rendahkan kami. Ini bangsa kami, dan kami tidak takut. Semangat nasionalismeku dan kawanku menggelora, menjadi titik awal pergerakan nasional.
Belanda adalah musuh kami bukan kawan kami. Aku sudah diberi pendidikan oleh mereka. Karena itulah aku berpikir. Aku mengerti. Mereka jahat. Terlebih kepada partai politikku. Sarekat Islam yang mereka nggap membahayakan, mereka adu domba, mereka mendoktrin sebagian anggotaku, sebagian muridku. Kini aku harus bertindak. Aku kemballi menguatkan pondasi hati anggotaku dan muridku agar tidak terpengaruh belanda jahat itu. SI itu satu. SI yang damai, adil dan sejahtera. Bukanlah SI merah maupun SI putih. Yang ada adalah SI merah putih (Indonesia).

Kembali, aku Tjokroaminoto. Guru besar bangsa Indonesia. Murid-muridku terkenal. Soekarno, Semaoen, Kartosoewirjo. Saat itu, siapa sih yang tak kenal mereka. Mereka murid terbaikku. Dengan susnan kata-kata yang sama aku tancapkan ke dada mereka. Namun, pengertian mereka berbeda. Soekarno seorang Nasionalis. Semaoen yang Komunis, Kartosoewirjo yang Islamis. Mereka berbeda namun tetap satu. Dasar yang aku tanamkan pada mereka, tumbuh berbagai jenis yang hebat. Nasionalis, komunis, islamis, bukanlah perbedaan yang memecahbelahkan kami namun mempersatukan kami. Itulah buah hasil dari apa yang aku tanam.


Islam dan sosialisme. Menurutku itu sudah mencakup semuanya. Kemampuan menulisku sudah jauh lebih baik dari awal-awal. Lembar demi lembar kugores menggunakan pena bulu bertinta hitam. Lembaran itupun terkumpul menjadi satu. Menjadi sebuah buku. Buku yang tidak biasa. Buku yang luar biasa. Buku yang semoga tetap dibaca atau sekedar tahu apa inti isi dari buku itu, di saat kamu membaca tulisan ini.


Komentar